Pemkab Padang Pariaman Upayakan Kakao Kembali Menjadi Komoditi Unggulan

Kepala Dinas Pertanian Padang Pariaman tampak memimpin rapat bersama jajarannya untuk mengupayakan agar tanaman kakao kembali menjadi komoditi lokal
Kepala Dinas Pertanian Padang Pariaman tampak memimpin rapat bersama jajarannya untuk mengupayakan agar tanaman kakao kembali menjadi komoditi lokal (Istimewa)

PADANG PARIAMAN , KLIKPOSITIF - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Padang Pariaman bertekad memnggaungkan kembali kakao di daerahnya. Upaya ini diawali dengan rapat gabungan yang diadakan di Hall Saiyo Sakato, Pariaman.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Yurisman mengatakan, rapat kali ini membahas tentang upaya dan strategi peningkatan produktivitas kakao di Kabupaten Padang Pariaman .

baca juga: Perempuan 18 Tahun Ditusuk di Kawasan Tandikek Padang Pariaman

“Melihat pentingnya kakao sebagai komoditi unggulan daerah, perlu kiranya kita merapatkan barisan untuk merumuskan strategi yang akan dilaksanakan nantinya. Hal ini juga bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi petani kakao di Padang Pariaman juga,” kata Yurisman.

Menurut data yang dihimpun BPS, pada 2016 Padang Pariaman memiliki perkebunan kakao seluas 17.781 hektar. Dengan luas tersebut, tentunya akan menempatkan Padang Pariaman sebagai Kabupaten/Kota dengan luas kakao terbesar di Sumatera Barat.

baca juga: Yayasan Al Aziz Bantu 3 Korban Kebakaran di Padang Pariaman

Luas area kakao yang begitu besar menjadi tantangan bagi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Padang Pariaman untuk menjadikan kakao sebagai primadona di daerahnya.

Pada kesempatan itu, Kepala Bidang Perkebunan Taufik Hidayat menyampaikan, strategi yang akan diterapkan nantinya. Strategi pertama yakni dengan melakukan reinventarisasi data tanaman kakao di Padang Pariaman di tiap nagari sebagai dasar pijakan pelaksanaan program dan kegiatan. Hal ini bertujuan agar pemerintah tepat sasaran dalam mengoptimalkan pelayanan terhadap masyarakat tani.

baca juga: Akses Utama, Masyarakat Berharap Pengerjaan Jembatan yang Ambruk di Kayu Gadang Padang Pariaman Segera Selesai

Ia kembali mengatakan, strategi kedua yakni dengan cara mencarikan solusi dana, baik terhadap hasil produksi maupun tumpang sari sistem pertanaman. Ketiga, dengan melakukan revitalisasi peran penyuluh dalam meransang perubahan perilaku petani yang sesuai dengan karakteristik budidaya tanaman kakao .

Sedangkan strategi keempat menurut Taufik adalah dengan cara menumbuhkan dan menciptakan penyuluh andalan, serta petani profesional di masing-masing nagari.

baca juga: Polisi Temukan Ladang Ganja di Aur Malintang, Kapolres: Ada Sekitar 400 Bibit Ganja

"Jika strategi ini berhasil, petani dapat menuai kakao klon BL 50 dengan hasil panen 2 ton/tahun dalam 1 hektar. Untuk harga jual kakao sekarang berkisar Rp 20.000 sampai dengan Rp 25.000 per kilo nya. Apabila petani kakao mampu menghasilkan kualitas sesuai dengan permintaan ekspor, maka akan dapat melampaui harga pasar," kata Taufik.

Rapat ini diikuti oleh Kepala Dinas Pertanian dan jajarannya, Penyuluh, UPTD, Penyuluh THL TB-PP se-Kabupaten Padang Pariaman .

[Heri Martoni]

Penulis: Webtorial