Pembuatan Bata Berkualitas untuk Bangunan yang Aman dan Melindungi

Proses pembuatan bata berkualitas untuk bangunan yang aman gempa dan bencana lainnya
Proses pembuatan bata berkualitas untuk bangunan yang aman gempa dan bencana lainnya (Ist)

KLIKPOSITIFPositifers, rumah/bangunan adalah tempat untuk berteduh, berlindung dan berkumpul bersama keluarga, teman dan kerabat. Dalam kondisi apapun, setiap orang pasti ingin selalu pulang ke rumah setelah bepergian kemana saja dan seperti ungkapan yang selalu kita dengarkan “home sweet home”. Agar hunian terasa lebih nyaman dan menghadirkan sensasi yang aman, maka dibutuhkan penggunaan material yang berkberkualitas untuk memberikan jaminan atas hal tersebut salah satunya adalah batu bata.

Material bangunan, khususnya batu-bata atau yang sering akrab kita dengar dengan istilah bata, merupakan salah satu material inti yang menentukan ketahanan sebuah bangunan dalam menghadapi goncangan akibat gempa maupun bencana alam lainnya. BSNI (Badan Standar Nasional Indonesia) telah membuat standar bata berkualitas, dimana salah satu syarat mutu bata sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia) adalah Kuat Tekan, dengan nilai Kuat Tekan minimal sebesar 50 Kg/cm2 atau 5 MPa (SNI 15-2094-2000).

baca juga: Kamis Pagi, Kawasan Aceh Diguncang Gempa

Untuk menghasilkan produksi bata yang dapat memenuhi standar mutu dimaksud, khususnya dalam nilai Kuat Tekan minimum, diperlukan proses pembuatan bata yang baik dan benar dimana jika seluruh proses dilaksanakan secara konsisten, maka hasil yang diperoleh akan sesuai dengan syarat SNI tersebut Berikut ini penjelasan dan tahapan dalam pembuatan bata berdasarkan hasil reseach/penelitian yang dilakukan oleh Build Change , utamanya terkait dengan nilai Kuat Tekan lebih dari 5 MPa (Mega Pascal) sesuai persyaratan SNI.

I. PEMILIHAN LOKASI

baca juga: Pemerintah Siap Operasikan Tol untuk Dukung Perbaikan Ekonomi

Perlu diingat bahwa lokasi yang tepat sangat mempengaruhi proses produksi untuk menghasilkan bata yang berkwalitas, diantaranya:

1. Ketersediaan lahan sebagai tempat produksi selama lebih dari 2 tahun (minimal) 
2. Ketersediaan jenis tanah yang sesuai sebagai bahan baku pembuatan bata
3. Terdapat sumber air 
4. Adanya akses jalan ke lokasi tungku

baca juga: Pagi-pagi Gempa Guncang Mentawai, Ini Penjelasan BMKG

Lokasi dan tata letak fasilitas produksi bata berkualitas

II. LEGALITAS DAN IZIN USAHA

baca juga: Dampak COVID-19, Menkeu: Belanja Modal Diubah dari Single Year Jadi Multiyear

Kegiatan usaha yang dilaksanakan oleh UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dimaksud harus secara legal memiliki izin dan terdaftar untuk melaksanakan kegiatannya, yang dengan demikian maka UMKM tersebut dapat memiliki akses kepada pendanaan dari lembaga keuangan resmi maupun kepada fasilitas pembinaan dan pendanaan dari pemerintah III. DESAIN/PERANCANGAN TUNGKU

Tungku untuk proses pemasakan bata hasil produksi harus di rancang/disain sesuai dengan lokasi perlu juga diperhatikan langkah persiapan dalam perancangan tungku karena awal dari seluruh proses produksi guna menghasilkan bata berkualitas dimulai dari tahap ini dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1. Terlindung dari angin dan air
2. 3 lapisan pada dinding guna menjaga panas dalam tungku saat pembakaran
3. Dibangun bentuk persegi empat / bujur sangkar, panjang = lebar, tinggi maksimal 3 meter, agar kuat dan tidak mudah runtuh
4. Disarankan untuk dinding dibuat permanen guna efisiensi produksi
5. Gunakan atap dari daun rumbia agar uap air dari proses pembakaran tidak merusak atas
6. Rangka bangunan pelindung tungku dibuat dari kayu keras, spt: Bakau, Kesambi, Cemara, atau Johar
7. Cukup ruang di samping tungku guna menyimpan bata mentah siap bakar, agar terhindar dari air

III. PENCAMPURAN TANAH (PROSES RANCAH)

Perlu diperhatikan dengan seksama langkah untuk melakukan pencampuran tanah lempung dengan pasir dan air untuk menghasilkan bahan baku bata mentah yang berkualitas dengan cara sebagai berikut:

1. Aduk tanah yang telah tersedia, dengan menambahkan air sedikit demi sedikit
2. Rancah dilakukan untuk produksi bata antara 5 ribu s/d 10 ribu bata, sesuaikan lebar tempat rancah.
3. Disarankan menggunakan 2 ekor kerbau yang berjalan di atas tanah tersebut
4. Tanah dibolak-balik dengan cangkul, utamanya bagian tepi, setiap 30 menit, agar merata
5. Kadar air diamati, tambahkan air secukupnya.
6. Jika tanah sudah terlihat mengkilat atau seperti berminyak, hentikan dan lakukan uji kematangan tanah dengan metode Kepal atau Gulung.
7. Diamkan tanah yang telah dirancah selama 12 sd 24 jam, tutup dengan plastik guna menjaga kematangan dan kekenyalan tanah.

Rancah dengan Tenaga Kerbau

· Dibutuhkan waktu minimal 2 (dua) jam untuk tanah bagi produksi 5.000 bata dengan 1 (satu) kerbau dewasa, dan minimal 1 (satu) jam dengan 2 (dua) kerbau. 

·  Untuk kapasitas 7.000 – 8.000 bata dengan 1 (satu) kerbau dibutuhkan minimal 3 (tiga) jam, dan 1,5 (satu setengah) jam jika menggunakan 2 (dua) ekor kerbau.

·  Untuk kapasitas 9.000 – 10.000 dengan 1 (satu) kerbau memerlukan waktu minimal 3.5 (tiga setengah) jam, dan 2 (dua) sd 3 (jam) untuk 2 (dua)  ekor kerbau.


IV. PENCETAKAN
Salah satu kunci keberhasilan proses produksi yang dapat menghasilkan bata berkualitas dengan nilai Kuat Tekan lebih dari 5 MPa adalah pada saat kegiatan pencetakan bata tersebut. Pada proses pencetakan inilah bentuk bata yang dihasilkan akan sangat ditentukan, selain keseragaman ukuran baik panjang, lebar, dan ketebalannya. Berikut langkah kerjanya:

1. Sediakan pasir yang telah disaring terlebh dahulu, atur dan letakkan semua perlatan agar mudah dijangkau.
2. Basahi alat cetak dengan cara dicelupkan dalam air, tiriskan, dan lumuri dengan pasir, buang kelebihan pasir dengan cara diketok sambil alat cetak dibalikan.
3. Letakan alat cetak di atas meja cetak, ambil campuran tanah, padat dan tidak berongga.
4. Banting campuran tanah kedalam alat cetak, isi sampai penuh.
5. Ratakan campuran tanah dalam alat cetak dengan menggunakan alat potong, buang dan simpan kelebihan campuran tanah
6. Keluarkan campuran tanah dengan cara membalikan, sampai keluar sepenuhnya. Lakukan di tempat pengeringan.
7. Atur jarak, sehingga terdapat jarak sekitar 2 cm antar bata.

V. PENGERINGAN
Proses pengeringan mempunyai peran vital dalam proses produksi guna menghasilkan bata bekualitas. Seringkali kegagalan untuk mencapai nilai Kuat Tekan diatas 5 MPa karena kesalahan dan/atau kecerobohan dalam menerapkan proses pengeringan yang tepat.

· Pembasahan dan pelumuran alat cetak agar bata hasil cetak rapi, dan campuran tidak lengket di alat cetak

· Letakkan campuran tanah sebanyak 20 kali volume yg diperlukan setiap kali cetak

· Angkat gulungan tanah setinggi bahu, banting dengan kekuatan sedang ke dalam alat cetak, agar masuk secara penuh dan padat

Pengeringan yang terlalu cepat, dapat menyebankan keretakan bata, yang pada akhirnya menurunkan nilai Kuat Tekan. Lakukan hal berikut dlam proses pengeringan bata basah hasil pencetakan:

1. Pastikan tempat pengeringan rata, kering, bersih dari sampah, baru kerikil, dan rumput, serta air dapat mengalir lancar
2. Buat saluran air di samping tempat pengeringan denhgan kedalaman 15 cm
3. Pastikan batas basah menjadi kering (berubah warna menjadi terang terutama di bagian pinggir/tepinya)
4. Tegakkan bata setengah kering tsb, buat jarak antar bata tegak sebesar 2 cm.
5. Susun bata tegak bertingkat secara silang sampai benar-benar kering. Lakukan uji Garuk.

VI. PENYUSUNAN BATA DALAM TUNGKU
Penyusunan bata dalam tungku akan sangat mempengaruhi tersebarnya panas dalam tungku, yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas bata yang dihasilkan. Secara garis besar, dibagi dalam 3 bagian:
· Bagian dasar (Gigi),
· Bagian Bunga,
· Bagian bawah (Tikar).
· Bagian Tengah, dan
· Bagian penahan panas

Di bagian Gigi, di lapisan pertama bata disusun tegak, untuk lapisan 2 dan 3 disusun tegak dan melintang terhadap lapisan di bawahnya.

Lapisan 4 dan seterusnya disusun menyesuaikan dengan bentuk lubang mulut api, dengan pola saling melintang dan terdapat jarak sebagai jalannya panas, susunan gigi berakhir setelah mencapai bagian atas dan menutupi lubang pembakaran.

Bagian Bunga hanya terdiri atas satu lapisan susunan bata, pola sama dengan Gigi bagian atas namun disusun melintang.

Bagian Tikar di lapisan bawah sangat disarankan untuk tungku dengan dinding permanen, setiap lapisan disusun dengan cara setiap susunan 2 (dua) bata diberikan jarak sekitar 1/3 bagian panjang bata dan disesuaikan dengan luas tungku.

Penyusunan lapisan bagian Tengah adalah sama dengan pola penyusunan bata pada bagian Bunga, demikian juga penerapan pola melintang disetiap lapisan.Di 3 (tiga) lapisan paling atas, penyusunan bata di bagian Tengah dilakukan secara rapat. Penyusunan bata bagian Tengah maksimal berjarak 2 (dua) meter dari atap tungku.

Untuk tungku non dan semi permanen, perlu disusun bata di sekeliling dan di atas bata yang akan dibakar tersebut. Untuk tungku permanen dimana sudah terdapat dinding, maka hanya perlu disusun bata penahan panas di bagian atas dari lapisan Tengah.

Susunan bata penahan panas di atas lapisan Tengah adalah bata rebah/tidak tegak dan rapat sehingga seluruh area tertutup sempurna. . Bata penahan panas di bagian atas disusun sebanyak 3 lapisan.

Untuk bata penahan panas di sekeliling bata yang akan dibakar, disusun dengan 2 lapisan. Lapis pertama dengan pola 3 bata tegak secara rapat, kemudian di depannya bata secara melintang.

Lapisan kedua dengan pola bata tegak secara rapat, mengelilingi seluruh area bata yang akan dibakar, stelahnya disusun bata rebah mengelilingi seluruh area bata yang akan dibakar. Demikian seterusnya. Untuk bata penahan panas di sekeliling bata yang akan dibakar, disusun dengan 2 lapisan.

· Bagian Bunga adalah susunan lapisan bata di atas bagian Gigi.
· Tikar adalah lapisan di atas bagian Bunga yang terdiri dari 5 (lima) lapisan susunan bata.
· Keluarnya aliran udara panas dari bawah yang tidak diatur dapat menyebabkan rusaknya atau terbakarnya atap tungku.

VII. PEMBAKARAN
Tahap yang sangat krusial karena tidak bisa dilakukan koreksi dengan pengulangan proses. Berikut rangkuman dari hal-hal yang penting dalam proses pembakaran, sebagai berikut:
1. Gunakan kayu yang telah kering, potong disesuaikan dengan mulut lubang pembakaran
2. Tahap dalam pembakaran:

a. Tahap pengeringan untuk mengeluarkan sisa kandungan air dalam bata. Gunakan kayu rendah panas selama kurang lebih 24 jam. Asap akan terlihat lebih gelap dan banyak pada saat kandungan air dalam bata masih relatif banyak, kemudian asap akan kelihatan putih pada saat bata sudah kering, dan kemudian akan terlihat udara panas yang keluar dimana asap tidak ada lagi.

b. Tahap peningkatan suhu, kurang lebih 2 hari. ini dilakukan begitu terlihat asap putih telah tidak kelihatan lagi, namun telah terlihat udara panas (fatamorgana) yang bergerak naik, dan seringkali disertai bau yang tajam.Masukan kayu tinggi panas, yang akan menghasilkan bara/arang, dan jaga api agar tetap menyala dengan menambah kayu secara berkala.

c. Tahap mempertahankan temperatur tungku, dilakukan selama 24 sd 48 jam setelah tahap kedua (hari keempat atau kelima). menjaga agar nyala api stabil, sehingga temperatur tinggi dalam tungku terjaga, dengan memasukkan kayu panas tinggi sesuai yang diperlukan.Tutup lubang pembakaran secara sempurna sampai dengan seluruh kayu dalam tungku terbakar habis menjadi abu dan sisa arang dalam jumlah yang tidak banyak.

· Susun dan pisahkan kayu sesuai dengan tingkat panas yang dihasilkan. Kayu dengan panas rendah digunakan saat pertama kali proses pembakaran dilakukan.

· Contoh kayu rendah panas: karet, durian, rambutan, jeruk sengon.
· Contoh kayu tinggi panas: Bakau, kesambi, cemara, dan Johar.
· Pembakaran dimulai secara bersamaan di semua lubang pembakaran.
· Panas akan merambat naik dari bawah, sehingga jika terjadi penurunan nyala api yang menyebabkan turunnya temperatur dalam tungku, akan menyebabkan proses berulang dari awal.

VIII. PENDINGINAN
Bata hasil pembakaran perlu didingnakan terlebih dahulu, sebelum dapat dibongkar dan diangkut dari Tungku.
1. Lubang pembakaran dibuka, jika sudah terlihat tidak ada lagi sisa kayu terbakar dan arang/bara dalam tungku.
2. Untuk tungku dengan bata penahan panas, bata penahan panas dibongkar setelah bata tersebut dirasakan tidak panas lagi.
3. Pengambilan bata dilakukan setelah bata sudah dingin. Pengambilan bata dalam keadaan panas dapat menyebabkan bata mudah patah, sehingga menguangi mutu/kekuatan bata.
4. Pendinginan dilakukan selama kurang lebih 4 sd 5 hari setelah padamnya api dalam tungku

IX. PEMBONGKARAN BATA DARI TUNGKU
Banyak kecelakaan kerja dan patahnya bata, akibat pembongkaran pada saat bata masih dalam keadaan panas, serta tidak diindahkannya pembongkaran sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.
1. Bongkar lapisan bata penahan panas di bagian atas, dan samping, gunakan lagi sebagai bata penahan panas di bagain atas pada proses pembakaran berikutnya.
2. Bata yang relatif bagus akan diproses kembali pada pembakaran berikutnya.
3. Proses pembongkaran bata dimulai dengan 1/4 bagian atas terlebih dahulu, terus menurun sampai dengan lapisan Bunga.
4. pembongkaran ¼ bagian selanjutnya dengan cara yang sama (menurun sampai dengan lapisan Bunga), dan seterusnya sampai dengan lapisan Tengah dan Tikar selesai dibongkar seluruhnya.
5. lapisan Bunga dan Gigi dilakukan dengan mengambil bagian belakang terlebih dahulu. Pola pembongkaran sama dengan bagian sebelumnya, yaitu ¼ bagian lapisan Bunga, terus menurun sampai lapisan Gigi paling bawah.
6. Bersamaan dengan proses pembongkaran bata dalam tungku, maka diambil beberapa bata untuk dilakukan uji kualitas bata.

X. PENYIMPANAN
Hal yang perlu diperhatikan:
1. Penyimpanan dapat juga dilakukan dengan cara tidak melakukan pembongkaran bata dalam tungku, selama belum ada penjualan yang terjadi, utamanya pada tungku yang tidak terdapat area khusus sebagai tempat penyimpanan bata persediaan.
2. Bata persediaan diletakkan ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung serta terlindung dari air hujan, guna menjaga kualitas bata.
3. Penyimpanan bata persediaan dalam tungku, perlu memperhatikan kondisi bagian paling bawah dasar, pastikan tidak basah atau lembab.(*)

Penulis: Webtorial